Penulis: Aktivis Pemuda Muslimin Sumatera Utara
https://aktualonline.co – Perspektif || Pada tahun ke-9 Hijriah, sekelompok kaum Munafiqin di Madinah mendirikan sebuah bangunan megah. Sebuah Masjid untuk tempat ibadah orang-orang yang sakit dan lemah.
Namun, ternyata tempat itu sengaja didesain sebagai markas operasi intelijen, tempat merancang makar, dan pos pantau untuk memata-matai pergerakan Nabi serta memecah belah umat dari dalam.
Di tahun 2026 ini, praktek serupa terkuak di Indonesia. Manifestasi nyata Sindrom Masjid Dhirar terjadi. Eks Kapolri Listyo Sigit dan perwira polisi penyadap lainnya ternyata memanfaatkan institusi resmi negara, menggunakan perangkat taktis negara, dan beroperasi bagai negara di dalam negara untuk menelanjangi privasi pemimpinnya.
Di histori peristiwa Masjid Dhirar, Allah melarang Rasulullah untuk memberikan toleransi sedikit pun pada institusi manipulatif tersebut seperti yang digambarkan dalam Alquran surat At Taubah ayat 107-108.
Tuntunan ini tidak berhenti pada boikot. Rasulullah merespons makar intelijen itu dengan langkah radikal dan tanpa kompromi. Beliau mengutus sahabatnya untuk membakar dan meratakan Masjid Dhirar dengan tanah.
Tentu saja, di negara demokrasi modern, solusi ketatanegaraan bukanlah dengan cara membakar gedung kementerian atau markas besar seperti peristiwa Masjid Dhirar masa Rasul, melainkan melakukan pembersihan total secara institusional.
Berdasarkan Surah An-Nisa ayat 58, Allah mewajibkan pemimpin untuk menyerahkan amanat kepada mereka yang benar-benar berhak dan kredibel (al-qawiyyu al-amin).
Ketika pejabat-pejabat lama telah terbukti melakukan pengkhianatan dengan menyadap kepala negaranya, mengganti mereka dengan figur-figur baru yang bersih adalah sebuah kewajiban syar’i dan konstitusional.
Presiden tidak boleh ragu memotong generasi yang terkontaminasi kultur deep state ini. Kepercayaan tidak akan pernah bisa direstorasi oleh tangan-tangan yang pernah menodainya. Aparat yang terbiasa hidup di ruang gelap konspirasi tidak akan pernah bisa diajak bekerja di ruang terang pembangunan.
Oleh karena itu, langkah Prabowo Subianto yang men-tersangka-kan Listyo Sigit beserta gerbong perwiranya sudah berada di rel yang sangat tepat.
Ini merupakan terapi kejut yang harus dituntaskan dengan perombakan struktur secara masif. Mengganti orang-orang lama dengan darah baru agar tidak tersandera masa lalu.
Bukan hanya di tubuh kepolisian, maupun kementerian tingkat pusat, melainkan seluruh jajaran hingga ke tingkat Desa atau Kelurahan, supaya tidak menjadi bibit yang bisa melakukan merusak persatuan Indonesia suatu hari nanti demi kepentingan kelompok mereka. || Solihan Hasibuan
Editor: Prasetiyo
*Anda juga dapat mengirimkan artikel opini ke rubrik Perspektif dengan menyertakan identitas berupa KTP (disertakan identitas pendukung berupa KTA organisasi jika berpendapat membawa nama organisasi) ke email redaksi: [email protected].
Catatan: Tulisan yang diterbitkan merupakan karya orisinil, belum naik di media lain. Redaksi juga berhak mengedit artikel yang masuk dengan tidak menghilangkan makna tulisan








