*Penulis adalah pengasuh rubrik Perspektif, dan Mahasiswa Program Doktor Komunikasi Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan
https://aktualonline.co – Perspektif || Satya Adhi Wicaksana. Memegang sumpah suci ini seperti sebuah jalan sunyi dan berbahaya. Ibarat ruh, ketika Tri Krama Adhyaksa tersebut ditiupkan ke dalam ruang-ruang penyidikan kasus megakorupsi, genderang perang terbuka pun ditabuh oleh para perampok uang negara.
Serangan balik itu nyata. Tidak ada yang suka kesenangannya diobrak-abrik hingga dipertontonkan ke publik. Namun, manuver para koruptor kali ini sedikit berbeda. Mereka membombardir tepat menuju peringatan Hari Bhakti Adhyaksa ke-66.
Lewat sudut pandang krisis legitimasi Jurgen Habermas, serangan para oligarki terhadap Adhyaksa bukan sekadar fisik atau prosedur di kejaksaan, melainkan fondasi rasionalitas dan kepercayaan moral institusi tersebut. Para perampok uang negara tahu persis, ketika sebuah lembaga penegak hukum kehilangan legitimasi di mata rakyat, maka runtuh pula daya cengkeramnya.
Itulah mengapa narasi gelap, pembunuhan karakter, hingga intrik benturan antar-institusi diembuskan secara sistematis dari luar. Ini adalah instrumen kepanikan kelas dominan.
Lakon corruptors fight back ini sah dibaca sebagai upaya membalikkan keadaan, mengubah posisi penegak hukum yang semula berkuasa atas nama keadilan, menjadi pihak tertuduh yang harus sibuk membela diri sendiri.
Sebab, bagi para maling berkerah putih, membiarkan Kejaksaan terus menerobos brankas-brankas hitam sama artinya dengan menunggu kematian imperium korupsi mereka. Cara paling presisi untuk meredam amukan buldoser hukum ini adalah dengan meretakkan perisai kepercayaan rakyat dari dalam maupun luar.
Karena itu, di usia ke-66 ini, peringatan Hari Bhakti Adhyaksa pantang sekadar jadi seremoni potong tumpeng yang hambar. Ini adalah sirene bahaya bagi seluruh insan Adhyaksa untuk membaca peta pertempuran secara jernih.
Kepercayaan publik yang menjulang tinggi saat ini adalah satu-satunya modal simbolik paling berharga yang tidak bisa dibeli dengan logistik para mafia. Jangan biarkan modal itu menguap karena ulah oknum internal yang masih doyan bersekongkol, atau karena nyali pimpinan yang ciut dihardik tekanan politik.
Hantaman bertubi-tubi yang datang hari ini justru harus dibaca sebagai validasi empiris yang telak. Bahwa pedang keadilan Adhyaksa sedang mengoyak urat nadi yang paling sakit dari para perampok negara. Teruslah mengayun. Jangan pernah mundur sejengkal pun. Selama Kejaksaan konsisten memegang Satya Adhi Wicaksana dan memihak Republik, rakyat akan selalu memasang badan menjadi benteng pertahanan terakhir.
Dirgahayu, Korps Adhyaksa! Teruslah menjadi mimpi buruk paling menakutkan bagi para perampok uang negara.|| Prasetiyo
*Anda juga dapat mengirimkan artikel opini ke rubrik Perspektif dengan menyertakan identitas berupa KTP (disertakan identitas pendukung berupa KTA organisasi jika berpendapat membawa nama organisasi) ke email redaksi: [email protected].
Catatan: Redaksi berhak mengedit artikel yang masuk dengan tidak menghilangkan makna tulisan.




