*Penulis adalah pengasuh rubrik Perspektif, dan Mahasiswa Program Doktor Komunikasi Penyiaran Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan
https://aktualonline.co – Perspektif || Di berbagai panggung politik dan penegakan hukum di negeri ini, bahasa tubuh sering kali berbicara jauh lebih nyaring daripada rentetan kalimat di siaran pers resmi. Begitulah yang dilihat publik ketika Trunojoyo melangkahkan kaki dan mengetuk pintu markas Adhyaksa.
Publik mahfum bahwa ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ini adalah sebuah ritus visual. Sebuah gestur politik yang mengirimkan pesan tegas bahwa konstelasi matahari penegakan hukum sedang bergeser, dan Adhyaksa kini sah menjadi jawara barunya.
Dalam sosiologi politik, ada yang disebut sebagai the power of gesture atau kekuatan gestur. Teori ini meyakini bahwa tindakan fisik, posisi duduk, hingga siapa yang mendatangi siapa, merupakan cerminan dari relasi kuasa yang sedang terjadi di balik layar.
Siapa yang sowan dan siapa yang disowani bukanlah perkara protokoler acak. Di sana ada pengakuan de facto atas legitimasi, prestasi, dan yang paling mahal di era digital ini adalah kepercayaan publik.
Selama bertahun-tahun, kita terbiasa melihat Korps Adhyaksa berada di bawah bayang-bayang lembaga penegak hukum lain. Mereka sering diposisikan di hilir, sekadar menerima bola matang dari penyidik di hulu. Namun, sejarah belakangan ini ditulis ulang dengan tinta yang berbeda.
Rentetan kemenangan Kejaksaan Agung di meja hijau telah mengubah segalanya. Keberhasilan mereka membongkar skandal mega-korupsi tata niaga komoditas timah yang merugikan negara hingga ratusan triliun rupiah, serta ketegasan mengejar aset triliunan dari kasus Duta Palma, adalah bukti sahih.
Ditambah lagi ketangguhan tim jaksa dalam mematahkan perlawanan para koruptor di sidang praperadilan. Kejaksaan Agung menjelma menjadi ujung tombak yang paling ditakuti koruptor sekaligus paling dicintai publik. Rapor hijau dan grafik kepuasan masyarakat yang terus meroket adalah medali juara yang kini dikalungkan di leher mereka.
Maka, ketika Kapolri memilih untuk sowan ke sarang Jaksa Agung, the power of gesture bekerja dengan sangat sublim. Gestur ini adalah bentuk penghormatan sekaligus konfirmasi bahwa Korps Adhyaksa sedang berada di puncak performa terbaiknya.
Langkah kaki Trunojoyo ke Adhyaksa meruntuhkan ego sektoral yang selama ini kerap menjadi barikade laten antarlembaga hukum. Ia menjadi simbol penyerahan tongkat komando opini publik bahwa hari ini, Adhyaksa-lah yang memegang kemudi tren penegakan hukum yang bersih.
Namun, status jawara baru ini tidak boleh hanya menjadi pajangan di lemari trofi prestasi kasus-kasus anyar. Justru, legitimasi kuat yang kini dipegang Kejagung harus menjadi modal utama untuk menuntaskan tumpukan pekerjaan rumah (PR) kasus-kasus besar yang masih menggantung dan dinantikan masyarakat.
Publik, misalnya, masih terus menagih kelanjutan perburuan aset kakap sisa-sisa mega-skandal BLBI yang tak kunjung tuntas, hingga pengusutan aktor-aktor intelektual di balik gurita mafia tanah seperti kasus proyek Deli Megapolitan Citraland di Sumut contohnya dan tambang di berbagai daerah yang penanganannya sempat tersendat.
Kasus-kasus warisan yang belum tuntas ini adalah ujian keadilan yang sesungguhnya. Masyarakat tidak hanya merindukan kemenangan di kasus baru yang gegap gempita, tetapi juga menantikan keberanian Kejagung untuk mengurai benang kusut perkara lama yang selama ini tampak tak tersentuh.
Dengan modal kepercayaan publik yang sedang tinggi-tingginya, serta gestur dukungan penuh dari Kapolri yang datang berkunjung, tidak ada lagi alasan bagi Kejagung untuk bersikap ragu. Sinergi ini harus menjadi mesin pendorong untuk membongkar sumbatan-sumbatan hukum pada PR lama tersebut.
Memang, menjadi jawara baru lewat sebuah gestur politik adalah menyenangkan, tetapi merawat gelar juara itu juga merupakan urusan lain yang jauh lebih berdarah-darah.
Status jawara baru adalah magnet bagi ekspektasi publik yang luar biasa tinggi. Sekali saja Kejaksaan Agung goyah karena intervensi, membiarkan PR lamanya kedaluwarsa, atau terjebak dalam tebang pilih kasus, maka karpet merah kepercayaan yang digelar hari ini bisa digulung paksa oleh masyarakat esok hari.
Gestur sowannya Trunojoyo harus dimaknai sebagai momentum emas. Bukan untuk membuat Adhyaksa jemawa dan menepuk dada, melainkan untuk merajut barisan demi menuntaskan tunggakan keadilan. Sebab, musuh sesungguhnya para mafia hukum dan koruptor kakap sedang mengintip dari balik tirai, menunggu sang jawara baru ini lengah saat menikmati sanjungan.
Kemenangan di atas kertas dan panggung gestur sudah didapat, kini publik tinggal menagih setelah sowan, seberapa cepat PR kasus timah jilid berikutnya dan sisa aset BLBI itu akan disapu bersih.|| Prasetiyo
*Anda juga dapat mengirimkan artikel opini ke rubrik Perspektif dengan menyertakan identitas berupa KTP (disertakan identitas pendukung berupa KTA organisasi jika berpendapat membawa nama organisasi) ke email redaksi: [email protected].
Catatan: Redaksi berhak mengedit artikel yang masuk dengan tidak menghilangkan makna tulisan.




