Today

1 Tahun 5 Bulan Jadi Wali Kota Medan, Rico Waas Dinilai Masih Disetir Elit Politik

Prase Tiyo

Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik Sumut Oesril Limbong. (Foto: Prasetiyo/Aktual Online)
Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik Sumut Oesril Limbong. (Foto: Prasetiyo/Aktual Online)

‎https://aktualonline.co – Medan || Satu tahun lima bulan menduduki kursi Wali Kota Medan, kepemimpinan Rico Waas dihantam kritik menohok. Bukannya menunjukkan taji sebagai pemimpin muda yang progresif, gaya kepemimpinan politikus NasDem tersebut justru dinilai kian mempertegas posisinya yang rapuh dan mudah didikte oleh kepentingan politik di sekelilingnya.
‎
‎Kritik pedas dilontarkan oleh Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik Sumut Oesril Limbong. Menurutnya, dua tahun perjalanan Pemko Medan di bawah Rico Waas tak ubahnya panggung kompromi, di mana program pembangunan strategis hingga sektor UMKM sama sekali tidak menunjukkan kebaruan otentik.
‎
‎”Sayang kali uang PAD dianggarkan, sia-sia. Kayak buang garam ke laut. Dua tahun ini Rico Waas membuktikan dirinya belum mampu lepas dari bayang-bayang patron politiknya. Kebijakan yang keluar saya nilai kental aroma kompromi meja makan. Seakan-akan masih disetir elit politik,” ungkap Oesril Limbong, Selasa (4/8/2026) pagi.
‎
‎Disinggungnya, Rico Waas lupa bahwa masing-masing kecamatan di Medan memiliki karakteristik unik, misalnya sentra kuliner pesisir di Medan Belawan, industri kreatif di Medan Kota, hingga pusat tekstil/fashion di kawasan lain. Sehingga pengembangan UMKM seharusnya diarahkan sesuai keunggulan lokal sektoral, bukan digebyah-uyah dengan pelatihan seremonial yang monoton dari rezim sebelumnya.
‎
‎”Kalau cuma sekadar bagi-bagi bantuan atau bikin bazar, itu program zaman dulu. Seharusnya gebrakan baru Rico itu memetakan UMKM berdasarkan potensi sektoral tiap kawasan di Medan. Namun karena tidak punya independensi gagasan, yang terjadi ya cuma fotokopi kebijakan lama,” ujar Oesril Limbong.
‎
‎Janji-janji untuk dapat berdialog secara mudah dengan masyarakat seperti janjinya saat kampanye juga tinggal kenangan. Protokoler ketat, dan yang bisa berjumpa hanya kalangan tertentu yang dipastikan tidak mengeluh apalagi mendesak masalah mereka diberi solusi cepat.
‎
‎Suasana Kota Medan juga makin memanas ketika mencuat kabar pembagian pengerjaan proyek di lapangan dikuasai oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan kepentingan kelompok politik tertentu yang belakangan disebut-sebut publik sebagai ‘Geng Sunggal’.
‎
‎Jika kondisi ini terus berlanjut, maka Oesril Limbong memastikan Kota Medan akan menjadi arena perang kepentingan politik yang menyusahkan rakyatnya. || Prasetiyo

READ  Pengamat Politik UISU: Bobby Nasution Contoh Pemimpin Muda Masa Depan

Related Post