Today

Wamenag Ingatkan PTKN: Adaptasi Kurikulum atau Punah Seperti Dinosaurus

TM

https://aktualonline.co–Bali ||| Tantangan era digital dan dinamika dunia kerja yang kian kompleks menuntut Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) untuk tidak terjebak dalam zona nyaman. Pendidikan tinggi diminta berani merombak kompetensi lulusannya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Pesan menohok itu disampaikan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii saat memberikan orasi ilmiah dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda II Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan di Singaraja, Bali, Jumat (23/10/2026).

Dalam orasinya, Wamenag mengibaratkan perguruan tinggi yang enggan beradaptasi seperti satwa purba yang akhirnya lenyap ditelan zaman.

“Dulu yang paling kuat memang sangat kuat, satwa yang bernama dinosaurus. Tapi kemudian tidak mampu beradaptasi, dinosaurus pun punah,” ujar Romo Syafii di hadapan ratusan wisudawan dan sivitas akademika, seperti yang dikutip Aktual Online, Sabtu (24/10/2026) dari laman www.kemenag.co.id.

Tak hanya membawa tamsil dinosaurus, ia juga mencontohkan raksasa teknologi komunikasi dunia yang sempat menguasai pasar global, namun runtuh seketika akibat menutup mata dari inovasi dan kebutuhan konsumen.

Tiga Pilar Pengembangan Perguruan Tinggi

Untuk merespons tantangan tersebut, Romo menekankan tiga pilar utama yang wajib dipegang teguh oleh setiap lembaga pendidikan tinggi keagamaan:

  1. Peningkatan Mutu Akademik: Kampus tidak boleh cepat puas dengan capaian yang ada dan harus terus menaikkan standar kualitas pembelajaran.
  2. Relevansi Kompetensi: Kurikulum wajib disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja modern agar lulusan tidak merasa “paling pintar” di tengah perubahan.
  3. Kontribusi Nyata dan Integritas: Ilmu yang didapat harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat luas.

“Manusia yang baik itu bukan hanya pintar dan mampu beradaptasi, tapi mampu memberi manfaat kepada sesama. Dalam ajaran, khairunnas anfauhum linnas. Dan kuncinya adalah integritas,” tegas Wamenag.

READ  Polsek dan Muspika Tarumajaya Berbagi Takjil Pada Pengendara Yang Lintas di Jalan Raya Tarumajaya

Jangan Jadi Menara Gading

Romo Syafii juga mengingatkan agar PTKN, khususnya IAHN Mpu Kuturan, tidak menjelma menjadi “menara gading” yang terpisah dari realitas sosial di sekitarnya. Penelitian yang dilakukan dosen maupun mahasiswa harus mampu menjawab persoalan riil di masyarakat, sementara program pengabdian harus dirasakan dampaknya secara langsung.

Ia pun mengapresiasi capaian IAHN Mpu Kuturan yang di tahun keduanya ini telah mendapat kepercayaan dari pemangku kepentingan (stakeholders) pemerintah serta tokoh keagamaan Hindu di Bali.

“Saya sangat bangga. Pesan saya, ini terus dikuatkan dan dikembangkan sehingga lulusan yang kita hasilkan bisa langsung diserap untuk menempati posisi-posisi strategis bagi pembangunan bangsa dan negara,” tuturnya.

Menutup arahannya, Wamenag menegaskan bahwa kebesaran sebuah perguruan tinggi tidak semata-mata diukur dari kemegahan fisik institusinya, melainkan dari kualitas lulusan serta kemampuannya menjaga keharmonisan masyarakat Indonesia yang beragam.|||Red

 

Related Post