Today

Genjot Fixed Broadband hingga 50 Persen, Kemkomdigi Patok Internet 100 Mbps Cuma Rp 100 Ribu

TM

Wamenkomdigi Nezar Patria memberikan keterangan kepada awak media usai acara BMP Digital Infrastructure Summit 2026 di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). (Foto: Ist/Aktual Online)
Wamenkomdigi Nezar Patria memberikan keterangan kepada awak media usai acara BMP Digital Infrastructure Summit 2026 di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026). (Foto: Ist/Aktual Online)

https://aktualonline.co–Jakarta||| Angin segar bagi para pemburu konektivitas murah dan cepat di tanah air. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tengah menggodok strategi besar untuk memangkas tarif berlangganan internet rumah tangga di Indonesia. Resep utamanya: melipatgandakan penetrasi jaringan internet kabel atau fixed broadband.

Tak tanggung-tanggung, pemerintah mematok target harga yang sangat ramah kantong. Layanan internet berkecepatan jumbo 100 Megabit per second (Mbps) diharapkan bisa dinikmati masyarakat hanya dengan merogoh kocek sekitar Rp 100 ribu per bulan.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengungkapkan bahwa penetrasi fixed broadband saat ini masih tergolong cekak, yakni baru menyentuh angka 22 persen dari total konektivitas nasional.

“Kita ingin ongkosnya semakin rendah dengan memperkuat fixed broadband, bukan cuma mobile broadband. Sekarang penetrasinya baru sekitar 22 persen. Target kita bisa melonjak sampai 50-an persen,” ujar Nezar seusai menghadiri perhelatan Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta Pusat, Senin (12/10).

Menurut Nezar, tarif internet di Indonesia saat ini masih tergolong mahal jika disandingkan dengan daya beli masyarakat. Mengacu data International Telecommunication Union (ITU), dengan pendapatan per kapita Indonesia yang mendekati USD 5.000, biaya ideal berlangganan internet rumah tangga berada di kisaran Rp 200 ribu per bulan.

Kenyataan di lapangan justru berbalik. Rata-rata masyarakat masih harus membayar kisaran Rp 300 ribu per bulan. “Biayanya masih terlalu mahal. Maka dari itu, kuncinya ada pada perluasan jaringan fixed broadband agar biayanya bisa kita tekan sedemikian rupa,” tegas mantan jurnalis senior tersebut.

Selain perang harga, Kemkomdigi pasang badan untuk urusan pemerataan akses. Meski cakupan sinyal 4G sudah mengepung 97 persen wilayah berpenghuni, masih ada ‘titik buta’ (blank spot) di pemukiman padat maupun daerah terpencil.

READ  Danlanud Sultan Hasanuddin Pimpin Apel Khusus Peringatan HUT Ke-6 Skadron Udara 33

Guna mengatasi kesenjangan itu, pemerintah menyisipkan syarat ketat dalam ajang lelang spektrum frekuensi mendatang. Operator seluler pemenang lisensi 4G maupun 5G wajib membangun infrastruktur di kawasan tertinggal dan belum terjangkau (underserved).

“Kami mewajibkan seluruh pemenang spektrum untuk memperhatikan daerah-daerah ini. Pembangunan fixed broadband dan jaringan seluler harus jalan beriringan,” tandas Nezar, seperti yang dikutip Aktual Online, Selasa (13/10/2026) dari laman www.komdigi.go.id.

Di saat bersamaan, percepatan teknologi 5G yang saat ini penetrasinya masih menginjak 8,5 persen terus dipacu. Pemerintah optimistis, kombinasi internet kabel murah dan jaringan seluler supercepat bakal menjadi tulang punggung inklusi digital di seluruh penjuru negeri.|||Red

Related Post